Recent Posts

Dari Acara OPBB Mei 2013: Hubungan Suami Isteri dalam Pandangan Islam

Ahad 19 Mei 2013, KMIH kembali menyelenggarakan acara OPBB alias Obrolan Petang Bapak-Bapak. OPBB kali ini diadakan di rumah Bpk. Wim Ikbal di Apato Kampung Nusantara.

Acara yang dihadiri para bapak dan calon bapak ini dimulai pada pukul 6 sore. Topik yang diangkat adalah hubungan suami dan isteri.

Acara dibuka dengan tilawah oleh Bpk. Ikhsan dan dilanjutkan dengan sesi materi oleh Ust. Obie Farobie. Seperti biasa, setelah sesi materi, acara dilanjutkan dengan diskusi.

Diskusi berjalan santai sambil menikmati sajian berbagai makanan.

Selesai diskusi, acara dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah, makan malam, dan foto bersama.








Berikut adalah materi yang dibawakan oleh ust. Obie Farobie:

----------------------------------------------------------------------------------------------------

PENGOKOHAN KELUARGA ISLAM
tulisan Dr Ir Achmad, MS yang dibawakan oleh Ust. Obie Farobie

Beberapa Ayat Al-Qur’an tentang Urgensi Pendidikan dalam Keluarga

1.“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim/66:6).

2.“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha/20:132).

3. “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman/31:12-19).

Keluarga Sakinah

Keluarga sakinah bukanlah keluarga yang statis, atau tidak pernah menghadapi masalah, akan tetapi adalah keluarga yang dinamis yang senantiasa berusaha untuk mencari solusi yang tepat dan sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya dalam menghadapi berbagai macam persoalan.

Beberapa hal pokok yang perlu dijadikan pegangan dalam rangka mewujudkan keluarga sakinah secara ringkas dikemukakan dalam bahasan berikut.

Kewajiban Suami terhadap Istri

Pertama: Menjaga dan melindungi dirinya dan keluarganya dari api neraka
  
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim/66:6).

Ali r.a. memberikan penjelasan firman Allah “qu anfusakum wa ahlikum nara”, yaitu dengan mendidik dan mengajar mereka.

Diriwayatkan bahwa Umar r.a. berkata pada waktu ayat itu turun: Ya Rasulullah, kami faham menjaga diri kami, tetapi bagaimana dengan menjaga keluarga kami? Nabi saw. menjawab: “Engkau larang mereka dari apa yang Allah larang untuk kamu, dan engkau perintahkan mereka dengan apa yang Allah perintahkan kepada kamu, dengan demikian terlindunglah mereka dari api neraka”.

Kedua: Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal yang halal dan baik

Yang dimaksud nafkah adalah harta yang dikeluarkan oleh suami untuk istri dan anak-anaknya berupa makanana, pakaian, tempat tinggal dan hal lainnya. Nafkah seperti ini adalah kewajiban suami berdasarkan dalil Al Qur’an, hadits, ijma’ dan logika.

Dalil Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bapak dari si anak punya kewajiban dengan cara yang ma’ruf (baik) memberi nafkah pada ibu si anak, termasuk pula dalam hal pakaian. Yang dimaksud dengan cara yang ma’ruf adalah dengan memperhatikan kebiasaan masyarakatnya tanpa bersikap berlebih-lebihan dan tidak pula pelit. Hendaklah ia memberi nafkah sesuai kemampuannya dan yang mudah untuknya, serta bersikap pertengahan dan hemat” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 375).

Hadits:
Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada’, “Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf” (HR. Muslim no. 1218).

Kisah:

Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti ‘Utbah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anak-anakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364).

Lalu berapa besar nafkah yang menjadi kewajiban suami?

Disebutkan dalam ayat,

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 7).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa yang jadi patokan dalam hal nafkah:
1. Mencukupi istri dan anak dengan baik, ini berbeda tergantung keadaan, tempat dan zaman.
2. Dilihat dari kemampuan suami, apakah ia termasuk orang yang dilapangkan dalam rizki ataukah tidak.

Termasuk dalam hal nafkah adalah untuk urusan pakaian dan tempat tinggal bagi istri. Patokannya adalah dua hal yang disebutkan di atas.

Ketiga: Bergaul dengan istri dengan cara yang ma’ruf (baik)

Yang dimaksud di sini adalah bergaul dengan baik, tidak menyakiti, tidak menangguhkan hak istri padahal mampu, serta menampakkan wajah manis dan ceria di hadapan istri.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)

Diantara perlakuan yang baik tersebut adalah:

a. Memperlakukan dengan mesra dan lemah-lembut serta memberi kesempatan kepadanya untuk berceria dan bersendau gurau

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diceritakan oleh istri beliau, ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha,

Ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud no. 2578 dan Ahmad 6: 264. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam masih menyempatkan diri untuk bermain dan bersenda gurau dengan istrinya tercinta.

b. Suami tidak boleh menyebarkan rahasia dan menyebutkan kejelekan-kejelekan isteri di depan orang lain

Rasulullah melarang keras agar tidak mengumbar rahasia tersebut di depan umum. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Asma' binti Yazid Radhiyallahu anhuma : Bahwasanya pada suatu saat ia bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat dari kalangan laki-laki dan para wanita sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Apakah ada seorang laki-laki yang menceritakan apa yang telah ia lakukan bersama isterinya atau adakah seorang isteri yang menceritakan apa yang telah ia lakukan dengan suaminya?”

Akan tetapi semuanya terdiam, kemudian aku (Asma’) berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka semua telah melakukan hal tersebut.” Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian melakukannya, karena sesungguhnya yang demikian itu seperti syaitan yang bertemu dengan syaitan perempuan, kemudian ia menggaulinya sedangkan manusia menyaksikannya.”

c. Meminta pendapatnya dalam urusan rumah tangga dan pelamaran anak perempuannya serta dalam berbagai urusan yang lain

d. Membantu istri dalam tugas-tugas rumah

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah?” Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

e. Mengajak istri dan anak untuk rajin ibadah

Cobalah perhatikan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk memperhatikan shalat anak-anak kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perhatikanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Jika mereka telah berumur 10 tahun, namun mereka enggan, pukullah mereka.” (HR. Abu Daud no. 495. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwaul Gholil 298).

Begitu pula beliau memerintahkan pada suami untuk memperhatikan shalat malam istrinya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Daud no. 1450, An Nasai no. 1610, dan Ahmad 2: 250. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits hasan sebagaimana dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 625).

Kewajiban Bersama Suami-Istri

1.  Bekerjasama dalam rangka mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah 

a. Bekerjasama dalam mewujudkan kebahagiaan dan menghindarkan kejahatan serta kesedihan  semaksimal mungkin

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.  (Ar-Rum/30:21).

”....mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka ....”  (Al-Baqarah/2:187).
Abu Darda pernah mengatakan pada istrinya: Apabila engkau melihat aku marah maka redakan aku, jika aku melihatmu marah maka aku akan meredakanmu ; jika tidak demikian maka kita tidak akan bisa berkawan.

b.   Kerjasama dalam mentaati Allah dan takwa kepada-Nya.

Sabda Rasulullah saw.: “Semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang yang bangun malam kemudian sholat dan membangunkan istrinya lalu iapun sholat; jika istrinya enggan maka  ia percikkan air di mukanya. Dan semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang wanita yang bangun malam kemudian sholat dan membangunkan suaminya lalu iapun sholat; jika suaminya enggan (bangun) maka ia percikkan air di mukanya” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Para istri orang salaf biasa mengatakan kepada suaminya yang akan berangkat ke tugasnya: Takutlah kepada Allah SWT  janganlah engkau mencari rizki yang haram, karena kami mampu menahan lapar, tetapi tidak akan mampu menahan siksa neraka.

c.   Saling menjaga rahasia dan tidak menyebutkan kejelekannya kepada orang lain

d.   Saling bersikap ikhlas, setia, kasih sayang dan ramah

2. Bekerjasama dalam melahirkan dan membentuk gerenasi (anak-anak) yang soleh/solehah

Al-Qur’an memberikan tuntunan yang lengkap dalam pendidikan anak. Setidaknya ada lima unsur yang berperan dalam pendidikan anak, yaitu orang tua, anak, informasi/-pesan, metodologi, dan lingkungan. Berikut dikemukakan beberapa hal yang hendaknya diperhatikan atau dituntut dari para orang tua dalam mendidik anak:

a. Faham -->   ilmu yang dalam dan syamil (menyeluruh) tentang dinul Islam, khususnya arah pendidikan anak (Al-Baqarah/2:208).

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”. (Al-Baqarah/2:208).

b. Ikhlas  melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya (Al-Bayyinah/98:5).
        --> dorongan internal:  - ibadah (Adz-Dzariyat/51:56)
                                             - estafet generasi pengemban risalah da'wah (Maryam/19:3-6)

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”        (Al-Bayyinah/98:5).

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat/51:56).

”yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". (Maryam/19:3-6).

c. Memberi teladan (An-Nahl/16:120-122) -->  memberikan teladan dalam berbagai aspek                (Al-Ahzab/33:21).

”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri ni`mat-ni`mat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.”  (An-Nahl/16:120-122).\

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”  (Al-Ahzab/33:21).

d. Do'a (Al-Furqon/25:74) -->  mendo'akan anak dalam setiap kesempatan  

”Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”  (Al-Furqon/25:74).

e. Harta yang halal (Al-Baqarah/2:168) -->  gunakan harta  yang  halal  untuk memenuhi kebutuhan anak: sikap wara halalnya harta berdampak terhadap perkembangan ruhani anak

”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”  (Al-Baqarah/2:168).

f. Menyediakan sarana dan prasarana perkembangan ruhani - akal - jasmani 

”Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”  (Al-Qashash/28:7).

g. Lingkungan -->   berikan lingkungan yang baik (haq) dan hindarkan serta bentengi dari segala ajakan yang tidak baik 

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”  (Al-Maidah/5:35).

”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”  (Al-Kahfi/18:28). 

h. Metodologi -->  metodologi yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak 

”Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (Ali Imran/3:31)

i.  Perhatian -->  curahan perhatian secara penuh pada perkembangan anak 

”Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Yusuf/12:5).

j. Sabar -->  orang tua sabar dalam berinteraksi dengan anak 

”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha/20:132).

k. Al-Qur'an dan Sunnah -->  gunakan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul sebagai sumber pesan dan inspirasi dalam mengarahkan anak 

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  (An-Nisa/4:59).

l. Memberi nama yang baik -->  nama hendaknya berisi harapan dan do’a (Al-Hadist)

m. Aqiqah -->  memperlancar perkembangan ruhani (Al-Hadist)

n. Menjaga fitrah anak -->  tanamkan dan jaga Tauhid (Al-Hadist)

3. Bekerjasama dalam perbaikan ummat 

”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah/9:71).

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran/3:110).

Apabila penjelasan-penjelasan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, insya Allah keluarga sakinah yang menjadi dambaan tiap keluarga muslim dapat terwujud.

Wallahu a’lam

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Reportase oleh Iqbal