Recent Posts

Ketika Syahadatain Mengetuk Pintu Arsy-Nya

oleh Ainin Shofiawati

Sabtu dikala hari mendung masjid Hiroshima kedatangan seorang syekh dari Mekkah, Imam Masjidil Haram. Untuk menyampaikan materi berupa persiapan ramadhan. Segera kusebar pamphlet via darat kepada teman-teman jepang sekitar Hiroshima. Alhamdulilah ada 2 orang teman jepang yang bisa hadir. Acara di masjid baru dimulai pukul 17.00, jadi siang harinya kuajak mereka menghadiri acara pengajian ibu-ibu saijyo di sebuah apato. Teman satu sudah memeluk agama islam 9 tahun dan yang satu belum. Sebut saja H san, Sekitar oktober tahun lalu berniat bersyahadat tapi tak dinyana ada tetangga sebelah ada yang meninggal dunia sesuai tradisi jepang bila ada tetangga dekat meninggal maka tetangga sekitar harus ikut membantu. Maka keinginan syahadat masih ditahan oleh pintu langit.

***
H san: Ainin insya Allah saya akan datang acara besok bersama R san. Karena acara sampai sore, suami saya sudah mengijinkan saya menginap. Sepertinya susah ya kalau menginap di masjid? Tapi saya sudah cek beberapa hotel di saijyo. 
Ainin: Insya Allah bisa tadi saya sudah konfirmasi ke pengurus HICC perwakilan Indonesia. Jadi kita besok bisa mabit.
****

Sore hari setelah ikut pengajian ibu2 saijyo, kami menuju lantai 5 tempat akhwat berada, disana sudah tersedia video yang bisa kami lihat langsung. Ceramah dilaksanakan dalam dua bahasa yaitu bahasa arab lalu ditranslate dalam bahasa Inggris. Sister jepang yang fasih bahasa arab menjelaskan maksud ceramahnya bila kami tidak bisa menangkap dalam bahasa inggris, begitu pula sebaliknya ketika bahasa arab tidak dapat tertangkap maka sister jepang satu lagi menjelaskannya. Beberapa kali mix putus ditengah jalan sehingga isi ceramah yang ada, kadang hanya memakai ilmu kira-kira. Ceramah dan Tanya jawab dilaksanakan sampai pukul 20.00

Pukul 20.00 jamaah yang tidak menginap di Mesjid mulai perlahan meninggalkan masjid. Sambil menunggu H san dan R san mengantar sister Bangladesh ke rumahnya, saya dan beberapa teman Indonesia berbelanja keperluan malam di supermarket terdekat sekitar masjid.

Pukul 20.30 ternyata ceramah masih berlangsung hanya kali ini tidak ada video yang tersiar di lantai 5. Karena ingin menangkap ceramah lanjutan kami merapat ke speaker dan sampailah pembicaraan para bapak-bapak aneka bangsa tentang orang jepang yang membuat hatinya tersentak karena pembicaraan ini sepertinya tentang dirinya.

H san: Ainin ini sepertinya pembicaraan tentang saya ya. Saya tidak ada niat syahadat sekarang. Kau tahu kenapa? Jika saya masuk islam, saya tidak mau suami dan anak saya masuk neraka sementara saya masuk surga seorang diri. Ini yang membuat saya bimbang. 
Ainin: Ya sudah ayo kita kebawah kita tanyakan ke syekh langsung, pasti banyak nasehat, saran yang ada. Tidak perlu H san syahadah sekarang tidak perlu, sekarang sampaikan perasaan H san seperti tadi kekhawatiran H san terhadap keluarga. Hari  ini bukankah suami yang tidak begitu peduli ttg islam, tiba-tiba mengijinkan H san datang ke Mesjid bahkan menyuruh datang cepat ke sini sampai mengijinkan menginap seharian dan dengan 4 anak bersedia dititipkan. Entah kapan lagi bisa datang ke masjid dengan mudah seperti ini. Insya Allah bersama sister dari Malaysia akan mengantar ke bawah.

Alhamdulilah H san dengan tarikan paksaan bersedia dibawah ke lantai 4 dengan ditemani sister-sister dari Malaysia menemani. Awalnya saya binggung saya harus bicara kemana untuk mengawali ini. Alhamdulilah Allah seperti mengatur scenario, bertemulah saya dengan bapak dari Indonesia langsung saya jelaskan dan dengan cepat dipersilahkan masuk ke dalam. Presiden HICC yang sudah mengenal H san langsung mempersilahkan berbicara langsung di hadapan syekh al kidni. Kekhawatiran H san ditanggapi syekh, presiden HICC, staf kedubes arab Saudi dan brother lain kurang lebih:

"Sekarang pikirkan dulu diri sendiri, selamatkan dulu diri sendiri baru kita bisa menyelamatkan keluarga kita. Masa depan pikirkan nanti, yang sekarang jadi focus kita. Masa depan serahkan pada Allah swt. Siapa tahu dengan sekarang H san bersyahadat akan ada pertolongan-pertolongan lainnya yang semakin mudah. Ini hanya sekedar saran, dari kami, tidak ada paksaan. Apalagi sekang kita kedatangan syekh dari mekkah pemimpin jamaah berjuta umat islam. Syekh akan mendoakan H san semoga dimudahkan kedepannya, betapa amazingnya didoakan oleh berjuta umat islam. H san bersyahadah sekarang tetap bisa mengurus anak tidak harus berpisah dengan keluarga."

Berjuta rasa hati saya mendengar saran dari para bapak-bapak aneka bangsa, merinding dan ada rasa bersalah kalau-kalau paksaaan ini berakibat tidak bagus pada psikolog H san karena dari penjuru manapun satu saran yaitu Syahadat lah sekarang jangan ditunda

Azan isya berkumandang, H san meminta waktu untuk berpikir dan akan kembali setelah shalat isya. Ketika akan berbalik arah kebelakang, syekh, staf kedubes dan presiden HICC menghampiri barisan belakang. Bagaimana kalau syahadah sekarang jadi kita bisa shalat isya berjamaah. H san pun tanpa penolakan maupun bantahan berkata iya dan disaksikan jutaan malaikat dan penghuni langit
"Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah". 
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Saat itu syahadatain kembali mengetuk pintu Arsy-Nya.