Recent Posts

Catatan "Bersahabat dengan Al Quran"

 

Kajian Online Bulanan KMIH

“Bersahabat dengan Al-Quran”

 

Hari, tanggal   : Minggu, 18 Oktober 2020

  Ahad, 01 Rabiul Awal 1442

 

Pemateri          : Ustadz Iman Firdaus

Moderator       : Bapak Widdy Muhammad  Sabar Wibawa

Qori’               : Bapak Andi Aryan

MC                  : Bapak Fikry Purwa Lugina

 

Susunan acara :


1. Pembukaan oleh MC

2. Pembacaan ayat Al-Quran oleh Qori’

3. Materi, disampaikan oleh pemateri dan dipandu oleh moderator

4. Tanya jawab

5. Foto Bersama

6. Do’a dan penutup

 

Ringkasan isi materi:

 

Nabi shalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Bacalah Al-Quran, karena dia akan  akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi sahabat-sahabatnya.” (HR. Muslim 1910)

 

A.      Definisi Al-Quran:

Al-Quran adalah Kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salaama dengan perantaraan Malaikat Jibril, yang bernilai ibadah dengan membacanya. (Dikutip dari slide ustadz Iman Firdaus)

 

B.       Makna Bersahabat dengan Al-Quran

Yang dimaksud dengan bersahabat dengan Al-Quran adalah senantiasa berinteraksi dan dekat dengan Al-Quran.

 

C.      Langkah-langkah untuk bersahabat dengan Al-Quran

1.    Mengimani Al-Quran

Meyakini bahwa Al-Quran adalah kitab yang turun dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pedoman hidup.

 

Di antara tanda-tanda mengimani Al-Quran adalah sebagai berikut:

a.       Menjadikannya sebagai rujukan pertama dalam setiap masalah

b.      Menjadikannya sebagai hakim ketika ada perselisihan

 

Mengimani Al-Quran merupakan Langkah awal untuk mendapatkan ridho dan keberkahan dari Allah melalui Al-Quran.

 

2.    Tilawah/Membaca Al-Quran

 

Hendaknya kita menjadikan aktivitas membaca atau tilawah Al-Quran sebagai budaya yang mandarah daging yang dapat digunakan sebagai kebutuhan rohani sebagaimana butuhnya kita akan makan dan minum tilawah.

 

Berkaitan dengan istilah membaca, di dalam Al-Quran terdapat dua istilah:

a.       Qira’ah: -Membaca ayat-ayat Al-Quran

                         -Membaca alam semesta cipataan Allah

            Dasarnya surat Al-Alaq ayat 1.

Dua hal tersebut dapat menghantarkan seseorang untuk meningkatkan keimanan kepada   Allah.

b.      Tilawah: Membaca ayat-ayat Al-Quran

 

3.    Mempelajari Tajwid

 

Ibnu Qudamah Menyusun kitab Minhajul Qhasidin, di dalamnya terdapat materi tentang tingkatan ilmu, yaitu

a.       Ilmu Ushul (ilmu pokok): Hukum mempelajari ilmu Ushul adalah Fadhu ‘ain, yaitu Setiap muslim wajib mengenal Allah. Mempelajari Tauhid.

b.      Ilmu Furu’ (ilmu cabang): Hukumnya Fardhu Kifayah. Kewajiban mempelajari akan gugur ketika sudah ada yang mempelejarinya

-Berkaitan dengan agama: Ilmu tentang hukum waris, Ilmu Hadist

-Tidak berkaitan langsung dengan agama: Ilmu Teknik, ilmu kedokteran

c.       Ilmu pelengkap: Sebagai contoh Ilmu Nahwu Sharaf, Ilmu Tajwid.

 

Jadi ilmu tajwid termasuk ilmu pelengkap agar kita ketika membaca Al Quran bisa benar sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

Sebagaimana Sholat maka juga diperlukan ilmu pelengkap, seperti ilmu tata cara sholat. Maka yang dikaji adalah ilmu fikih seperti tentang tatacara berwudhu, cara ruku, cara takbir.

 

Terdapat suatu kaidah: “Suatu kewajiban itu tidak akan sempurna bahkan tidak akan sah kecuali dengan adanya suatu penghantar maka penghantar tersebut hukumnya menjadi wajib”

 

 

4.    Mentadabburi Al-Quran

Berusaha memahami kandungannya, menikmati iramanya, untaian kata yang indah hikmah dan rahasia dari setiap huruf, pilihan kata dan ayatnya. (Dikutip dari slide ustadz Iman Firdaus)

 

Berusaha memahami isi ayat yang dibaca. Hal ini bisa dimulai dengan cara membiasakan diri untuk tidak hanya membaca ayat Al Quran melainkan juga terjemahannya. Hal ini bisa dimulai dari surat-surat yang ada di Juz 30 atau ayat yang biasa dibaca di dalam sholat.

 

Dengan mentadaburi Al Quran kita bisa mengamalkan sunnah Nabi, sebagai contoh ketika Rasulullah melewati ayat tentang indahnya surga maka Rasulullah berhenti dan meminta kenikmatan tersebut, ketika melewati pedihnya siksa neraka maka Rasulullah berhenti dan berlindung dari siksa neraka tersebut.

 

5.    Menghafal dan mengulangi hafalan (36:22)

Dengan menghafal maka

 

6.    Mengajarkan dan mendakwahkannya

“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang mempelajari Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi. Ibnu Majah dan Ad-Darimi) (Dikutip dari slide ustadz Iman Firdaus)

 

Keutamaan dalam mengajar dalam islam adalah orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain akan mendapat pahala ketika orang yang diajar tadi beramal dengannya.

 

7.    Mengamalkan Al-Quran

 

Lampiran:

Poster Publikasi